Pages

Tampilkan postingan dengan label Perawatan Kucing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perawatan Kucing. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Juli 2014

Persiapan Adopsi Kucing Baru

Nah setelah sekian lama aku menunggu , ehh . tidak update blog di karenakan juga sudah tidak memiliki kucing perliharaan lagi , tapi sekarang saya akan mulai update lagi blog ini kan berbagi ilmu itu perbuatan yang bagus he.. he.. he.. 


Pada postingan kali ini saya ingin berbagi tentan persiapan-persiapan apa saja yang harus dilakukan ketika akan mengadopsi kucing baru . Ketika akan mengadopsi kucing baru sudah semestinya kita harus mempersiapkan perlalatan yang di perluhkan untuk keperluhan sehari-hari kucing tersebut. Carilah peralatan yang kokoh,kuat dan telah memenuhi standar sesuai fungsinya. 



Tempat Makan dan Minum
Kita akan  memerluhkan satu tempat makan dan satu tempat minum (pet bowl) untuk setiap kucing . Bisa juga ditambah 1 tempat lagi jika menginginkan untuk menambahkan makanan basah (wet food/raw food)

Tempat makan dan minum terbaik idealnya terbuat dari porselen tebal, Pyrex yang terbaik tapi sulit didapat dan mahal. Melamin dan plastik adalah bahan yang paling banyak digunakan karena mudah didapat dan murah. Plastik cenderung menarik bakteri yang dapat menyebabkan jerawat pada dagu kucing (chin acne). Beberapa kucing kurang menyukai pantulan dan warna mangkuk logam. Meskipun baja anti karat (stainless steel) aman, kucing  mungkin kurang menyukainya.


 





Idealnya tidak menggunakan dua mangkuk yang menempel jadi satu (double bowl). Karena beberapa kucing senang sekali menggunakan tangannya untuk memainkan dengan air minum, tumpahan air bisa membasahi makanan dan membuatnya cepat busuk. Kadang-kadang ketika memindahkan kandang atau mangkuk, air yang terdapat mangkuk bisa membasahi makanan yang ada di mangkuk sebelahnya. Dibandingkan mangkuk dobel, mangkuk singel juga lebih mudah dibersihkan.  Selain itu, sebagian besar kucing sangat menyukai tempat air yang berjarak (sekitar 20 cm) dari tempat makanan.
Setiap kucing harus mempunyai mangkuk makanan dan minuman sendiri. Jangan mengharapkan mereka untuk berbagi tempat makan dan minum secara damai. Tempat makan dan minum bisa diberi alas batas baki datar atau alas lain yang mudah dicuci, supaya makanan atau minuman yang tumpah bisa mudah dibersihkan
Litter Box dan alat pembantunya
Lupakan  pinggiran kotak pasi yang mewah dan sejenisnya. Sebuah kotak pasir sederhana dengan ukuran cukup (sekitar 30x35 cm) dan pinggiran cukup tinggi, bisa digunakan. Anak kucing (kitten) mungkin memerlukan pinggiran yang rendah.
Sekop pasir digunakan untuk mengambil/membersihkan pasir dari feces kucing atau memisahkan pasir yang sudah kotor.
Gunakan sikat kaku bertangkai panjang untuk membersihkan kotak  pasir dan  sekop pasir. Sikat ini biasanya digunakan untuk membersihkan toilet/kamar mandi. Jangan gunakan sikat yang sama untuk membersihkan toilet dan membersihkan peralatan kucing, karena beresiko menularkan penyakit yang bersumber dari kotoran.
Kandang Carrier
Meskipun  Anda tidak berencana bepergian dengan kucing Anda, kandang carrier wajib dimiliki. Carrier akan berguna bila ingin membawa kucing ke dokter hewan atau memandikan kucing di petshop. Jika Anda memiliki banyak kucing, pertimbangkan untuk membeli beberapa carrier.
Berbagai macam carrier tersedia di petshop dengan harga beragam. Masing-masing dengan kelebihan dan kekurangan tersendiri. Di Indonesia, keranjang belanja yang terbuat dari  cukup populer karena harganya relatif  murah. Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih carrier:
  • Ukuran. Tidak terlalu sempit, cukup untuk kucing duduk atau tidur dengan posisi nyaman
  • Kuat Mudah dibersihkan.
  • Mudah dibuka dan ditutup (dikunci) oleh pemilik kucing. Pengunci pada keranjang kucing kadang kurang bagus, berakibat kucing bisa keluar dengan mudah.
  • Alas. Beberapa carrier Impor mempunyai alas tambahan berupa saringan/jeruji terbuat dari plastik. Ini sangat berguna bila kucing kencing di dalam kandang, air kencing berada di bawah alas carrier dan tidak membasahi bulu kucing
  • Harga. Harga biasanya sesuai dengan kualitas & fasilitas. Carilah yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Anda.
Keranjang Belanja Plastik
Carrier impor
 





Baca Selengkapnya...

Senin, 24 September 2012

Tips Merawat Bulu Kucing


Tutorial Kucing

Merawat bulu kucing itu susah-susah gampang. Susahnya terutama ketika kucing kita memiliki bulu yang panjang.
Kucing persia, himalaya ataupun anggora memang sangat cantik, anggun dan elegan penampilannya. Hal itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa orang tertarik untuk memeliharanya. Bulunya yang panjang, lembut dan mengembang memang menjadikan tampilannya berbeda dari kucing “kampung” yang sering kita jumpai disekitar rumah. Namun kondisi tersebut hanya dapat ditemui pada kucing bulu panjang yang terawat baik. Kucing bulu panjang yang tidak terawat bisa tampak lebih dekil, kusam dan ‘menyeramkan’.

Beberapa hal yang patut diperhatikan dalam perawatan dan pemeliharaan kucing bulu panjang adalah : 
  1. Menyisir bulu setiap hari. Ini bermanfaat untuk meluruhkan bulu-bulu mati sehingga tidak menempel dan nyangkut pada bulu yang masih hidup. Bulu mati yang tidak terbuang akan menyebabkan bulu jadi kusut dan bisa menyebabkan gimbal. Selain itu bulu mati bisa menyebabkan hairball, yaitu gumpalan bulu dalam saluran pencernaan akibat bulu tertelan saat aktivitas self grooming ( menjilat-jilat bulunya). Hairball sangat berbahaya apabila tidak dapat dimuntahkan. Menyisir bulu juga memberi manfaat seperti memijat, sehingga merangsang  / memperlancar peredaran darah.
  2. Menyisir berlawanan arah pertumbuhan bulu. Sisir bulu mulai dari tengkuk kearah depan sedikit-demi sedikit sampai ujung ekor. Lakukan dengan pelan, lembut dan penuh perasaan sehingga kucing menikmati aktivitas ini. Gunakan sisir khusus terbuat dari bahan logam dan gigi sisir yang agak rapat.
  3. Lap muka dan permukaan bulu agar kotoran yang ada terangkat. Lakukan hal ini sebelum disisir. Gunakan lap lembut yang lembab (washlap atau kanebo ).
  4. Mandi dengan shampoo khusus untuk kucing setiap 2 minggu sekali. Lakukan aktivitas ini saat masih pagi dan cuaca cukup cerah  ( kucing dalam kondisi fit ) sehingga kucing tidak kedinginan dan bulu cepat kering. Keringkan dengan baik agar kulit tidak lembab. Kondisi kulit lembab akan merangsang pertumbuhan jamur . Apabila sebelum 2 minggu kucing tampak kotor. Cukup dibersihkan dengan air hangat dan lap tanpa menggunakan shampoo. Aktivitas mandi yang terlalu sering berdampak buruk pada penampilan bulu dan kesehatan kulit jangka panjang, karena akan merusak lapisan lemak pada bulu dan kulit.
Gizi yang baik akan sangat menunjang penampilan dan kesehatan kulit. Berikan cat food yang memberi manfaat tambahan untuk bulu panjang. Atau tambahkan suplemen untuk menunjang penampilan dan pertumbuhan bulu kucing yang lebih baik. (Drh. Amir Mahmud)

Baca Selengkapnya...

Minggu, 17 Juni 2012

Tutorial Membasmi Kutu/Pinjal Kucing

Pengetahuan mengenai siklus hidup pinjal perlu kita ketahui agar mengerti cara membasmi pinjal dengan tuntas..... tasss..!. Berdasarkan pola siklus hidupnya, kita dapat mengetahui bahwa tidak ada pengobatan atau cara membasmi pinjal yang hanya cukup dilakukan sekali saja.

Sebagian besar obat pembasmi pinjal hanya membunuh pinjal dewasa, tidak membunuh telurnya. Oleh karena itu bila pengobatan tidak diulang, telur yang menetas dan menjadi pinjal dewasa akan kembali menggigit kucing serta menelurkan kembali beberapa ratus telur pinjal.


Berikut ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk membasmi pinjal :
Suntikan Ivermectin
Banyak orang salah kaprah menyebut suntikan ivermectin adalah suntikan anti jamur. Sebenarnya ivermectin tidak dapat membasmi jamur. Ivermectin dapat dipergunakan untuk membasmi cacing dan ektoparasit seperti kutu (pinjal, caplak dan tungau). Sepertihalnya obat lain, ivermectin hanya membunuh cacing/kutu dewasa, tidak membunuh telurnya. Oleh karena itu diperlukan setidaknya 3 kali suntikan ivermectin dengan jarak 3-4 minggu. Injeksi ivermectin harus dilakukan dengan hati-hati pada kucing umur kurang dari 4 bulan *. Suntikan ivermectin tidak dianjurkan pada anak kucing berumur kurang dari 2 bulan, karena dapat menyebabkan keracunan dan mengganggu perkembangan ginjal.
Untuk pencegahan cacing & kutu pada kucing dewasa, suntikan ivermectin dapat dilakukan 2-4 kali setiap tahunnya.
Obat Tetes & Spray
Ada banyak obat tetes & spray anti kutu yang di jual di petshop-petshop, seperti Accurate, Revolution dan Frontline. Perhatikan aturan pakai setiap obat, biasanya obat-obatan tersebut tidak dianjurkan digunakan pada kucing dibawah umur 2 bulan.

Obat tetes biasanya diteteskan di kulit pangkal kepala di bagian belakang, dimana kucing tidak bisa menjilat bagian tersebut. Obat tetes Frontline cukup efektif membasmi kutu/pinjal selama 1 bulan. Agar tuntas sebaiknya diulang 1 bulan kemudian.

Untuk pencegahan, pemberian obat tetes dapat dilakukan 2-3 kali setahun

Shampoo anti kutu
Shampoo anti kutu cocok digunakan pada anak kucing berumur kurang dari dua bulan yang belum dapat diobati anti kutu lainnya. Beberapa pemilik kucing dewasa juga lebih menyukai cara ini karena selain dapat membasmi kutu/pinjal, juga membuat kucing lebih bersih. Pada saat memandikan, sebaiknya shampoo digunakan dua kali. Basahi rambut kucing secara merata, tambahkan shampoo secara merata, bersihkan dan bilas dengan air (air hangat). Kemudian setelah bersih tambahkan kembali shampoo, ratakan, biarkan + 5-10 menit baru kemudian dibersihkan. Setelah bersih keringkan dengan handuk dan hairdryer. Agar tuntas sebaiknya mandi shampoo anti kutu diulang dua minggu kemudian. Setelah itu, untuk tujuan pencegahan, pemberian shampoo dapat dilakukan 1 bulan sekali.

Pada kasus parah disertai komplikasi, diperlukan kombinasi beberapa cara sekaligus. Dan yang tidak kalah penting adalah membersihkan kandang, lantai dan tempat tidur kucing. Karena telur kutu bisa saja terdapat di sela-sela kandang, retakan lantai atau alas tidur kucing. (drh. Neno WS, 2006)

Referensi
* Lewis DT, Merchant SR, Neer TM. Ivermectin toxicosis in a kitten. J Am Vet Med Assoc. 1994 Aug 15;205(4):584-6.
Baca Selengkapnya...